pentingnya 3 kecerdasan dalam pendidikan

Standar

BAB I
Pendahuluan
A. Latar belakang
Pendidikan adalah cermin kepribadian bangsa, fenomena yang terjadi dalam masyarakat dewasa ini mencerminkan ketidak efektifan sistem pendidikan nasional dalam membina karakter dan moral spiritual pendidikan kita. Dalam bait-bait lagu nasional kita berbunyi “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia raya, seperti itulah gambaran cita-cita luhur para pendahulu kita yang seharusnya menjadi salah satu dasar dan acuan yang kuat untuk merancang dan menerapkan sistem pendidikan nasional kita.
Hal ini tentunya esensial dengan amanat UU NO 20/2003 tentang Sisdiknas yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah “menciptakan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Yuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab“. Tapi apa yang terjadi pada penerapannya sistem pendidikan kita saat ini yang lebih berorientasi pada pengembangan kecerdasan intelektual saja (IQ) saja dan dimensi kecerdasan yang lain seperti kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) di marginalkan.
Bahkan, jika kita melihat data hasil survey dari KPAI yang menyatakan bawa 32% pelajar Indonesia pernah melakukan hubungan suami istri (seks) diluar nikah. Tentunya ini sudah cukup menjadi bukti ketidakefektifan penerapan sistim pendidikan kita saat ini.
Itulah mengapa, penerapan tiga dimensi kecerdasan sangat penting dalam sistim pendidikan kita, sebagai solusi dalam membentuk karakter siswa yang ideal dengan amanat Undang-undang kita.
Permasalahan inilah yang menginspirasi penulis untuk menyumbangkan ide-ide dan pemikiran tentang solusi multi complex problem pendidikan kita. Dan menjadi alas an penulis untuk mengambil tema ini. “pentingnya penerapan tiga kecerdasan dalam pendidkan”.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah tiga kecerdasan itu?
2. Apa pentingnya tiga kecerdasan bagi pendidikan?
3. Bagaimana Strategi penerapan tiga kecerdasan dalam pendidikan?
C. Tujuan Karya Tulis
1. Untuk mengetahui pengertian tiga kecerdasan
2. Untuk mengetahui pentingnya tiga kecerdasan dalam pendidikan
3. Untuk mengetahui strategi penerapan tiga kecerdasan dalam pendidikan
D. Manfaat Karya Tulis
Adapun manfaat karya tulis dapat di rangkum menjadi 2 bagian yaitu:
1. Manfaat Praktis
Memberikan sumbangan pemikiran yang dapat di jadikan salah satu sumber informasi atau input yang dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan pada umumnya dan khususnya ilmu pendidikan.
2. Manfaat Teoritis
Karya tulis ini diharapkan bisa bermanfaat bagi pelaksanaan pendidikan atau kepala sekolah, para guru, dosen dan mahasiswa IKIP Mataram.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Hal-hal yang di bahas dalam kajian pustaka ini adalah pengertian kecerdasan dan pengertian tiga bagian kecerdasan.

A. Kecerdasan
Kecerdasan adalah kapasitas global atau terpadu yang dimiliki seseorang yang memungkinkan ia bertindak dengan tujuan, berfikir rasional, dan efektifitas dalam menangani lingkungan. (Wechler, 1993).

Ada tiga kecerdasan yang dibahas disini yaitu:
1. Kecerdasan intelektual (IQ)
Menurut Stephen R. Covey, IQ adalah kecerdasan manusia yang berhubungan dengan mentalitas, yaitu kecerdasan untuk menganalisis, berfikir, menentukan kausalitas, berfikir abstrak, bahasa, visualisasi, dan memahami sesuatu.
2. Kecerdasan Emosional (EQ)
Kecerdasan emosional digambarkan segabai kemampuan untuk memahami suatu kondisi perasaan seseorang, bisa terhadap diri sendiri ataupun orang lain, kecerdasan ini lebih tepat diungkapkan dengan What I Feel.
3. Kecerdasan Spiritual (SQ)
Kecerdasan spiritual (SQ) sebagai kecerdasan untuk menghadapi peroalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalan konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindalan atau jalan hidup seseoarang lebih bermakna di bandingkan dengan yang lain. (Danar Zohar dan Ian Marshal)

B. Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sistematis untuk meningkatkan martabat manusia secara holistik, yang memungkinkan ketiga dimensi kemanusiaan paling elementer di atas dapat berkembang secara optimal. Dengan demikian, seyogyanya menjadi wahana strategis bagi upaya mengembangkan segenap potensi individu, sehingga cita-cita membangun Indonesia seutuhnya dapat tercapai (Depdiknas, 2010).

Pendidikan adalah studi filosofis yang pada dasarnya bukan hanya alat untuk mengalihkan cara hidup secara menyeluruh kepada setiap generasi, melainkan juga merupakan agent (lembaga) yang berugas melayani hati nurani masyakat dalam perjuangannya mencapai hari yang lebih baik. (Van Cleve Morris)

Dr. Mohammad Fadhil al- Djamaly berpendapat bahwa pendidikan adalah proses mengarahkan derajat kemanusiaan sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarnya (pengaruh dari luar).

BAB III
METODE PENELITIAN
Salah satu faktor penting dalam karya tulis ini adalah metode penelitian yang digunakan sehubungan dengan hal tersebut dalam bab III akan diuraikan tentang metode penelitian dalam menyusun karya tulis ilmiah ini.

Metode yang digunakan dalam penyusunan makalah ini adalah metode observasi dan kepustakaan. Dalam hal ini penulis mengamati keadaan dan situasi pendidikan, dan juga membaca buku-buku yang berkaitan dengan penyusunan makalah ini.

BAB VI
PEMBAHASAN

A. Mengenal Tiga Kecerdasan
Era globalisasi, itulah sebutan era kita sekarang ini dengan perkembagan dan kemajuan dalam segala bidang pengetahuan dan sains. Salah satunya adalah penelitian tentang fungsi otak manusia yang telah sangat berkembang dan menghasilkan tiga penemuan besar tentang kecerdasan manusia yang melipti:

1. Kecerdasan Intelektual (IQ)
Kecerdasan ini di temukan pada sekitar tahun 1912 oleh William Sterm. Terletak di otak bagian Cortex (kulit otak). Kecerdasan ini adalah sebuah kecerdasan yang memberikan kita kemampuan untuk berlogika, berhitung, beranalogi, berimajinasi dan memiliki daya kreasi dan inovasi. Para pakar psikologi mengungkapkannya dengan What I Think?

Dan menurut Stephen R. Covey, IQ adalah kecerdasan manusia yang berhubungan dengan mentalitas, yaitu kecerdasan untuk menganalisis, berfikir, menentukan kausalitas, berfikir abstrak, bahasa, visualisasi, dan memahami sesuatu. Kamampuan ini pada awalnya dipandang sebagai penentu keberhasilan seseorang. Namun pada perkembangan terakhir IQ tidak lagi digunakan sebagai acuan paling mendasar dalam menentukan keberhasilan manusia. Karena membuat sempit paradigma (dalam sukidi).

Ketidak puasan terhadap konsepsi IQ sebagai konsep pusat dari kecerdasan seseorang telah melahirkan konsepsi yang memerlukan riset yang panjang serta mendalam. Daniel Golman melahirkan konsepsi EQ sebagai jawaban atas ketidak puasan manusia jika dirinya hanya dipandang dalam struktur mentalitas saja. Konsep EQ memberikan ruang terhadap dimensi lain dalam diri manusia yang unik yaitu emosional.

2. Kecerdasan Emosional (EQ)
Kecerdasan ini mulai dikenal pada akhir abad 20. Kecerdasan ini di otak berada pada otak bagian belakang manusia. Kecerdasan ini memang tidak mempunyai ukuran pasti seperti IQ, namun kita bisa merasakan kualitas keberadaannya dalam diri seseorang. Oleh karena itu EQ lebih tepat di ukr dengan feeling.

Kecerdasan emosional digambarkan segabai kemampuan untuk memahami suatu kondisi perasaan seseorang, bisa terhadap diri sendiri ataupun orang lain, kecerdasan ini lebih tepat diungkapkan dengan What I Feel.
Banyak contah disekitar kita membuktikan bahwa orang yang memiliki gelar tinggi belum tentu sukses berkiprah di dunia pekerjaan. Seringkali mereka yang berpendidikan formal lebih rendah, ternyata lebi berhasil di dunia pekerjaan.

Saat ini banyak orang perpendidikan yang tampak menjanjikan, mengalami kemandekan dalam kariernya. Lebih buruk lagi mereka tersingkir akibat rendahnya kcerdasan emosi mereka. Saya ingin menyampaikan satu hal yang terjadi di Amerika Serikat tentang kecerdasan emosi. Menurut survey nasional di Negara itu tentang apa yang diingainkan oleh para pemberi kerja: keterampilan keterampilan teknik tidak seberapa penting dila di bandingkan dengan keterampilan dasar untuk beradaptasi (belajar) dalam pekerjaan: kemampuan mendengar dan berkomunikasi secaralisan, beradaptasi, kreativitas, ketahanan mental terhadap kegagalan, kepercayaan diri, motivasi kerjasama tim serta keinginan memberi kontribusi terhadap perusahaan.

EQ adalah suara hati itulah yang seharusnya di jadikan pusat prinsip yang mampu mamberi rasa aman, pedoman, kekuatan serta kebijaksanaan. Menurut Covey, “disinilah anda berurusan dengan visi dan nilai anda. Di sinilah anda gunakan anugrah anda, kecerdasan diri (self awareness) untuk memeriksa peta diri anda, dan jika anda menghargai prinsip yang benar, maka paradigm anda sesungguhnya berdasarkan pada prinsip dan kenyataan dimana suara hati berperan sebagai kompasnya.

3. Kecerdasan Spiritual (SQ)
Kecerdasan ini digagas pertama kali oleh Danar Zohar dari Harvard University dan Ian Marshall dari Oxford University. Dikatakan banwa kecerdasan dpiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau Value untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.

Kecerdasan ini terletak pada satu titik yang disebut dengan God Spot. Mulai popular pada awal abad 21. Kecerdasan ini menjawab berbagai pertanyaan besar dalam diri manusia, kecerdasan ini mengngkapkan tentang jati diri seseorang atau di ungkapkan dengan Who I am, siapa saya? Dan untuk apa saya diciptakan?

Danar Zohar dan Ian Marshal mendifinisikan kecerdasan spiritual (SQ) sebagai kecerdasan untuk menghadapi peroalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalan konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindalan atau jalan hidup seseoarang lebih bermakna di bandingkan dengan yang lain.

SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita. (Ary Ginanjar Agustian, 2007) .

seperti contoh berikut ini. Erwin bekerja disebuah perusahaan otomotif sebagai seorang buruh. Tugasnya memasang dan mengencangkan baut pada jok pengemudi. Itulah tugas rutin yang sudah dikerjakannya selama hampir sepuluh tahun. Karena pendidikannya hanya setingkat SLTP, maka sulit baginya untuk meraih posisi puncak. Saya pernah bertanya kepada Erwin : “bukankah itu pekerjaan yang sangat membosankan?” ia menjawab dengan tersenyum, “tidakkah ini pekerjaan mulia, saya menyelamatkan ribuan orang yang mengemudikan mobil-mobil ini? Saya mengencangkan seluruh kursi pengemudi yang mereka dudukiitu.”

Esok hari saya mendatangi Erwin lagi. Saya bertanya lagi “mengapa anda bekerja begitu giat, upah anda kan tidak besar? Mengapa anda tidak melakukan mogok kerja saja seperti yang lain untuk menuntut kenaikan upah?” ia memandangi mata saya, masih dengan senyum dan menjawab, “saya memang senang dengan kenaikan upah seperti teman-teman yang lain, tapi sayapun memahami bahwa keadaan ekonomi memang sedang sulit dan perusahaanpun terkena imbasnya. Saya memahami keadaan pimpinan perusahaan yang juga tentu dalam kesulitan, bahkan terancam pemotongan gaji seperti saya. Jadi kalu saya mook kerja, itu hanya akan memperberat masalah mereka, masala saya juga. “lalu ia melanjutkan pembicaraan sambil tersenyum “saya bekerja, karena prinsip saya adalah member bukan untuk perusahaan, namun lebih kepada pengabdian saya kepada tuhan.

Erwin mempu memeknai pekerjaannya sebagai pengabdiannya kepada tuhan dan demi kepentingan umat manusia yang didintainya. Itulah kecerdasan spiritual.

Jika IQ membuat kita mampu berlogika dan memecahkan masalah dan EQ membauat kita mampu untuk memahami perasaan dan berempati terhadap orang lain maka SQ memberikan kita kemampuan untuk mencari jawaban tentang siapa aku? Dan untuk apa aku ciptakan?. IQ dan SQ membuat kita mampu bertindak dengan secara tepat dan cerdas maka SQ-lah yang memberi jawaban tentang makna dari perbuatan atau tindakan yang lakukan.

B. Pentingnya Penerapan Tiga Kecerdasan Bagi Pendidikan
Dalam rentan waktu dan sejarah yang panjang, manusia pernah sangat mengagungkan kemampuan otak dan daya nalar (IQ). Kemampuan berfikir dianggap sebagai primadona sedangkan potensi dari yang lain di marginalkan, pola pikir dan cara pandang yang demikian telah melahirkan manusia terdidik dengan otak yang cerdas tetapi sikap, prilaku dan pola hidup sangat kontras dengan kemampuan intelektualnya. Banyak orang yang cerdas akademik tetapi gagal dalam pekerjaan dan kehidupan sosialnya. Mereka memiliki kepribadian yang terbelah (split personality). Dimana tidak terjadi integrasi antara otak dan hati.kondisi terebut pada gilirannya menimbulkan krisis multi dimensi yang sangat memprihatinkan.

Fenomena tersebut telah menyadarkan para pakar bahwa kesukesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan otak dan daya pikir semata, malah lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). tentunya ada yang salah dalam pola pembangunan SDM atau penerapan sistem pendidikan kita saat ini yakni terlalu mengedepankan IQ dan mengabaikan EQ dan SQ.

Hasil survey dari KPAI menyatakan 32% pelajar Indonesia pernah berhubungan seks. bahkan di kota-kota modern seperti jakarta, bogor, depok, tangerang, dan bekasi 51% remajanya sudah melakukan seks pra nikah. Dan lebih ironisnya lagi menurut survey LaKIP (lembaga kajian islam dan perdamaian) menunjukkan 49% remaja setuju aksi radikal. Melihat data hasil survey diatas menggambarkan ketidak efektifan penerapan sistem pendidikan kita saat ini.

Tentunya ini menjadi tugas besar dan auto kritik bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan sistem pendidikan. Selama ini hanya berorientasi pada pengembangan IQ (daya nalar) dan cenderung mengabaikan SQ (empati) dan SQ (moral dan spiritualitas).

Untuk menghasilkan pribadi yang utuh secara intelectual, emosional, dan spiritual maka harus mampu menggabungkan dan mensinergikan IQ, EQ, dan SQ secara maksimal karna ketiga kecerdasan ini adalah perangkat yang bekerja dalam satu sistem yang saling terkait (interconnected) dalam diri manusia, sehingga tidak tepat jika dipisahkan fungsinya.

Pentingnya keseimbangan antara IQ, EQ, dan SQ adala sebagai berikut:
1. Bagaimana IQ tanpa EQ
Umumnya banyak hal yang hanya diukur dari kecerdasan intelektual (IQ) saja, Daniel Golemen, dalam bukunya Emotional Intellegence (1994) meyatakan bahwa ”kontribusi IQ bagi keberhasilan seeorang hanya sekedar 20% dalam kesuksesan seseorang”. IQ mengangkat fungsi pikiran dan EQ mengangkat fungsi perasaan.

Seorang yang ber-IQ tinggi namun mempunyai IQ yang lemah maka akan sulit menjalin komunikasi dan bergegosiasi dengan baik. Sebuah contoh,
Imunk memang tidak terlalu pintar dalam mata pelajaran logika matematika dan beberapa mata pelajaran lain namun setiap ada pembagian kelompok dikelas oleh guru, teman-temannnya selalu ingin satu kelompok dengan Imunk, bahkan setiap ada kegiatan seperti pemberian sumbangan dan menjenguk teman atau wali murid yang sakit Imunk selalu menjadi pilihan utama. Imunk memang bukan siswa yang cerdas itelektual (IQ) namun dia memiliki kecerdasan emosional yang tinggi sehingga dia mampu berempati, memahami, mengendalikan emosi, berkomunikasi, bersosialisasi dan menempatkan dirinya secara tepat sesuai dengan situasi yang ada.

Begitulah EQ itu bekerja dan mampu memberikan kesuksesan dalam diri kita. EQ dan komunikasinya mampu memberikan apresiasi kedalam diri sendiri dan orang lain. EQ membat kita mampu memahami emosi dan karakter orang lain.

2. Bagaimana IQ dan EQ tanpa SQ
Tentang IQ dan EQ sudak kita pahami pengertiannya serta bagaiamana keduanya apabila bersinergi. Namun apabila kedua kecerdasan terebut tidak disinergikan dengan SQ maka bisa berakibat fatal. SQ sendiri bukanlah menjadi “ahli petapa”, duduk termenung dan diam menikmati indahnya spiritualitas.

Seseorang bisa saja sukses dengan empunyai kecerdasan IQ dan SQ, seorang penipu atau yang lebih popular saat ini adalah para koruptor, tentunya dia harus cerdas dan jago bersrategi, untuk itu diperlukan IQ. Sementara untuk uji “timing” dalam pelaksanaan strategi, bernegosiasi, berkomunikasi, dan mampu merebut hati orang agar mau di ajak berspekulasi dan berkompromi dengannya di perlukanlah EQ. semangat juang tinggi, mereka selalu tampak prima dan percaya diri namun niat dan ahklaknya sangat buruk, itulah bentuk IQ, EQ bila tidak memiliki SQ.

Bahkan menurut sebuah penelitian, kunci terbesar seseorang adalah dalam EQ yang dijiwai dengan SQ. banyak orang yang di PHK bukan karna tidak mampu melakukan pekerjaan dengan baik, bukan karna tidak mampu mengoprasikan sesuatu dan bukan karna tidak mampu berkomunikasi dengan baik namun karna mereka tidak memiliki intergritas, tidak jujur, tidak bertangung jawab dan tidak amanah pada pekerjaanya. Itu karena mereka tidak mempunyai keseimbangan dalam tiga kecerdasan IQ , EQ, dan SQ.

C. Strategi Penerapan Tiga Kecerasan dalam Pendidikan
Untuk mewujukan pendidikan yang mampu melahirkan manusia yang ideal dan cerdas secara intelektual, emosi dan spiritual tentu bukanlah perkara yang mudah. Membutuhkan pemikiran dan proses yang panjang dalam merancang dan menyeimbangkannya. Para pengambil kebijakan pendidikan kita sudah beberapa kali diganti dan masing-masing mempunyai metode dan penerapan yang berbeda dalam sistem pendidikan,

Bahkan setiap pergantian mentri pendidikan, berganti juga kebijakan dan sistem pendidikannya. Namun alhasil seperti yang kita ketahui bersama tidak ada perubahan yang signifikan dalam proses maupun output yang dihasilkan oleh metode, sistem dan kebijakan tersebut, karena pada kandungan kurikulum bahkan materinya hampir sama, hanya memfokuskan penekanan pada satu sisi kecerdasan saja yaitu kecerdasan intelektual atau IQ .

Bahkan pendidikan agama islam (PAI) yang seharusnya menjadi medium utama dalam penerapan dan pengembangan kecerdasan spiritual, kebanyakan hanya berbasis hapalan yang lebih mengacu pada kecerdasan intelektual saja. Penerapan dan sistim pendidikan kita sekarang mungkin sudah sesuai dengan prinsip perkembangan kecerdasan intelektual seperti’ pendidikan matematika, bahasa, sejarah dan pelajaran lainnya yang bahkan sampai 3 atau 4 kali dalam seminggu. Proses belajar mengajar yang menggunakan sistem hitungan, hapalan dan problem solving.
Ada beberapa strategi dasar dala kegiatan pembelajaran untuk mengembangkan kecerdasan ganda, yaitu:
a) Awakening intelligence (Activating the senses and turning on the brain). Mengembangkan/memicu kecerdasan, yaitu upaya untuk mengaktifkan indra dan menghidupkan kerja otak.
b) Amplifying intelligence (Exercise and strengthening awakened capacities) memperkuat kecerdasan, yaitu dengan cara member latihan dan memperkuat kemampuan membangunkan kecerdasan.
c) Teaching for/with intelligence (structuring lesson for multiple intellegence) mengajarkan dengan/untuk kecerdasan, yaitu upaya-upaya mengembangkan struktur pelajaran yang mengacu pada penggunaan kecerdasan ganda.
d) Transferring intelligence (multiple ways of knowing beyond the classroom). Mentransfer kecerdasan, yaitu usaha untuk memanfaatkan berbagai cara yang telah dilatihkan dikelas untuk memahami realitas di luar kelas atau pada lingkungan nyata.

1. Pengembangan kecerdasan intelektual (IQ)
Dalam pengembangan kecerdasan intelektual (IQ) ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan, yaitu:

1) Pendekatan Kontekstual
Pendekatan konstekstual berlatar belakang bahwa siswa belajar lebih bermakna dengan melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan alamiah, tidak hanya sekedar mengetahui, mengingat, dan memahami. Pembelajaran tidak hanya berorientasi target penguasaan materi, yang akan gagal dalam membekali siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Dengan demikian proses pembelajaran lebih diutamakan daripada hasil belajar, sehingga guru dituntut untuk merencanakan strategi pembelajaran yang variatif dengan prinsip membelajarkan – memberdayakan siswa, bukan mengajar siswa.
Dengan menggunakan pendekatan ini siswa akan mengalami proses berfikir yang akan meningkatkan daya ingat dan daya nalarnya. Tentunya menggunakan kecerdasan intelelektualnya.
2) Pendekatan Konstruktivisme
Kontruktivisme merupakan landasan berfikir pendekatan kontekstual. Yaitu bahwa pendekatan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-tiba(Suwarna,2005).
Piaget (1970), Brunner dan Brand 1966), Dewey (1938) dan Ausubel (1963). Menurut Caprio (1994), McBrien Brandt (1997), dan Nik Aziz (1999) kelebihan teori konstruktivisme ialah pelajar berpeluang membina pengetahuan secara aktif melalui proses saling pengaruh antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru. Pembelajaran terdahulu dikaitkan dengan pembelajaran terbaru. Perkaitan ini dibina sendiri oleh pelajar.
Menurut teori konstruktivisme, konsep-konsep yang dibina pada struktur kognitif seorang akan berkembang dan berubah apabila ia mendapat pengetahuan atau pengalaman baru.

3) Pendekatan Deduktif – Induktif
a. Pendekatan Deduktif
Pendekatan deduktif ditandai dengan pemaparan konsep, definisi dan istilah-istilah pada bagian awal pembelajaran. Pendekatan deduktif dilandasi oleh suatu pemikiran bahwa proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik bila siswa telah mengetahui wilayah persoalannya dan konsep dasarnya(Suwarna,2005).
b. Pendekatan Induktif
Ciri uatama pendekatan induktif dalam pengolahan informasi adalah menggunakan data untuk membangun konsep atau untuk memperoleh pengertian. Data yang digunakan mungkin merupakan data primer atau dapat pula berupa kasus-kasus nyata yang terjadi dilingkungan.

Prince dan Felder (2006) menyatakan pembelajaran tradisional adalah pembelajaran dengan pendekatan deduktif, memulai dengan teori-teori dan meningkat ke penerapan teori. Di bidang sain dan teknik dijumpai upaya mencoba pembelajaran dan topik baru yang menyajikan kerangka pengetahuan, menyajikan teori-teori dan rumus dengan sedikit memperhatikan pengetahuan utama mahasiswa, dan kurang atau tidak mengkaitkan dengan pengalaman mereka. Pembelajaran dengan pendekatan deduktif menekankan pada guru mentransfer informasi atau pengetahuan

4) Pendekatan Konsep dan Proses
a. Pendekatan Konsep
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep berarti siswa dibimbing memahami suatu bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya. Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan subkonsep yang menjadi fokus. Dengan beberapa metode siswa dibimbing untuk memahami konsep.
b. Pendekatan Proses
Pada pendekatan proses, tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan proses seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan mengkomunikasikan. Pendekatan keterampilan proses digunakan dan dikembangkan sejak kurikulum 1984. Penggunaan pendekatan proses menuntut keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan belajar.

5) Pendekatan Sains, Tekhnologi dan Masyarakat
National Science Teachers Association (NSTA) (1990 :1)memandang STM sebagai the teaching and learning of science in thecontext of human experience. STM dipandang sebagai proses pembelajaran yang senantiasa sesuai dengan konteks pengalaman manusia. Dalam pendekatan ini siswa diajak untuk meningkatakan kreativitas, sikap ilmiah, menggunakan konsep dan proses sains dalam kehidupan sehari-hari.
2. Pengembangan kecerdasan emosional (EQ)
Untuk pengembangan kecerdasan emosional (EQ) sendiri akan lebih menekankan pada pendekatan secara langsung oleh yang akan memfokuskan peran dari seorang guru, seperti:
1) Memberikan tugas kelompok di rumah
Dengan pemberian tugas kelompok di rumah guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk berinteraksi dan berkomunkasi secara intensif dengan anggota kelompoknya. Dengan berkomunikasi dan saling mengenal latar belakang, di harapkan siswa akan belajar saling memahami, mengerti dan berempati dengan keadaan teman-temannya yang berbeda secara ekonomi maupun kondisi keluarga.
Tentunya pendekatan ini membutuhkan keaktifan guru dalam mengontrol dan mengarahkan para siswanya. Dengan memberi pengarahan dan pemahaman tentang perbedaan-perbedaan yang mereka temui di setiap anggota kelompoknya.
2) Melibatkan siswa dalam kegiatan-kegiatan sosial
Dengan melibatkan siswa secara langsung dan aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti, penggalangan dana bagi korban bencana, menjenguk teman atau guru atau teman yang sakit, bahkan melayat jika ada salah satu guru, tokoh kasyarakat, murid, dan wali murid yang mengalami musibah.

Dengan pendekatan secara langsung dan aktif tersebut di harapkan dapat menumbuh dan mengembangkan rasa empati terhadap lingkungan sekitarnya.
3) Pendekatan tauladan guru
Dalam pendekatan ini di tuntut seorang guru dalam bersikap dan bertingkah laku di dalam maupun di luar sekolah. Memberikan contoh secara nyata dan lansung kepada siswa tentang bagaimana mengendalikan dan mentranfer emosi yang positif pada siswa dan lingkungan sekitar.

3. Pengembangan Kecerdasan spiritual (SQ)
Untuk pengembangan kecerdasan spiritual (SQ) sendiri juga butuh aplikasi langsung dan aktif dari beberapa element pendidikan:
1) Kurikulum
Kurikulum pendidikan nasional harus menambahkan jam mata pelajaran pendidikan agama yang saat ini hanya diajarkan 2 jam dalam semingu di SLTP dan SMA dan 3 jam di SD.
Sistim pembelajarannya juga perlu di perbaikai dengan memperbanya praktik langsung dan bukan hanya sekedar berbasis hapalan semata.
2) Kepala sekolah
Peran kepala sekolah sangat sentral dalam menciptakan suasana sekolah yang kondusif dan religious. Dengan menguluarkan kebijakan-kebijakan yang mengacu pada aspek religious, seperti:
a. Mengadakan morning briefing setiap paginya selama 10-15 menit untuk mendengarkan siraman rohani, nasihat-nasihat dan kata-motivasi yang bisa membangkitkan mental spiritual para guru dan siswa.
b. Mengadakan jadwal piket setiap harinya untuk setiap kelas sebagai marbot, muazzin, dan imam shalat di mushalla sekolah dengan dibimbing oleh wali kelas.
c. Mewajibkan semua guru dan siswa untuk shalat berjamaah di mushalla sekolah.
3) Guru
Guru sebagi pendidikan, harus membimbing, mengenalkan dan memdekatkan siswa kepada ritual-ritual keagamaan, dari hal yang paling sederhana. Seperti:
a. Berdoa sebelum dan sesudah PBM
b. Membacakan sebuah hadist atau ayat sebelum memulai PMB
c. Mengingatkan dan memotivasi siswa untuk beribadah dan berbuat kebaikan.

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Yang menjadi faktor utama permasalan dalam sistim pendidikan nasional saat ini adalan, hanya berorientasi pada satu dimensi kecerdasan saja yaitu kecerdasan intelektual (IQ) sedangkan dimensi kecerdasan yang lain di marginalkan.

Untuk mengatasi permasalah pendidikan nasional saat ini adalah selain peran pemerintah sebagai pengambil kebijakan dalam hal kurikulum butuh peran dari kepala sekolah dan guru juga dalam usaha mensinergikan ketiga dimensi kecerdasan yaitu IQ, EQ, dan SQ.

B. Saran-saran
1. Kepala Sekolah
Kepala sekolah harus mampu mengambil kebijakan-kebijakan secara tepat dan proporsional untuk menciptakan suasana sekolah yang kondusif dan religious.

2. Guru
Supaya lebih meningkatkan loyalitas serta perannya sebagai tauladan bagi para siswa. Lebih meningkatkan wawasan dan pengetahuan keilmua yang bersifat religious supaya bisa menjadi guru yang ideal dalam penerapan pendidikan berbasis kecerdasan ganda.

Lebih kreatif dan aktif dalam menerapkan sistem pembelajaran yang berbasis kecerdasan ganda. Mampu membuat inovasi-inovasi dalam proses pembelajaran. Guru di tuntut untuk menjadi pembimbing bukan hanya sekedar instructor dalam mengarahkan siswa untuk melakukan hal-hal yang positif.
3. Mahasiswa
Mahasiswa sebagai calon guru atau pendidik hendaknya memperkaya wawasan dan pengetahuan tentang pendidikan modern dan holistik. Mampu membuat karya-karya inovatif dalam menerapkan pembelajaran yang aktif, kreatif dan edukatif.

DAFTAR PUSTAKA

Rubiyanto, Nanik, 2010, Strategi Pembelajaran Holistik di Sekolah. Jakarta. PT. Prestasi Pustakarya.
Agustian, Ary Ginanjar, 2007, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi Dan Spiritual. Jakarta. ARGA Publishing.
Budiningsih, Asri C. 2005, belajar dan pembelajaran. Jakkarta. PT. Rineka Cipta.
http://alixwijaya.com/2010/12-definisi-pendidikan-1.html#ixzz1ju9C6vec http://ilmupsikologi.wordpress.com/2010/02/18/hubungan-antar-sq-eq-dan-iq/
http://anatriya.student.umm.ac.id/2010/01/23/pentingnya-pendidikan-iq-eq-dan-sq- dalam-mewujudkan-bibit-muda-yang-sesuai-dengan-ajaran-agama/

Satu pemikiran pada “pentingnya 3 kecerdasan dalam pendidikan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s